CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

27.2.18

Cara Membuat Koneksi Client-Server Aplikasi SAS 2018




Apakah anda pengelola keuangan yang kesulitan menggunakan aplikasi SAS? Bingung membuat koneksi client-server untuk Aplikasi SAS? Sudah berkoordinasi dengan orang KPPN namun tetap tidak ada hasil, malah dibilang gampang-gampang saja? Dibilang gak perlu settingan khusus?

Nah..!! anda datang ke blog yang tepat, tanpa berbasa-basi saya akan jelaskan cara membuat koneksi server-client Aplikasi SAS 2018.

Tapi tunggu dulu, saya mau cerita, satuan kerja saya baru saja berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. Nah, sebagai satuan kerja baru, harus melakukan setting aplikasi-aplikasi keuangan yang kata pengelola keuangan kami sangat sulit dan ribet. Kemudian saya dikenalkan dengan Aplikasi SAS 2018 yang sampai saat ini saya tidak tahu apa kepanjangan dari SAS 😄

Singkat cerita, sang pengelola keuangan ingin dibuatkan koneksi server-client, bahwa ada server atau komputer yang dijadikan server. Okey dalam hati saya. Segera saja saya minta petunjuk teknis dan manualnya. Dalam bayangan saya tinggal klak-klik menu di atas, mungkin ada menu connect to server, atau ada menu make this computer a server.

Namun, alangkah terkejutnya saya mengetahui tidak ada petunjuk teknisnya, tidak ada manualnya, apaa..!! seperti sinetron india yang zoom in dan zoom out. Aplikasi besutan Kementerian terkaya se-Indonesia ternyata primitif, masih pakai Foxpro, dan tidak ada manualnya. Satu-satunya cara belajar adalah lewat whatsapp dengan orang KPPN katanya, oke saya bilang tanya aja caranya bagaimana.

Jawabannya gimana? Cuma jawab gampang, kan di sana ada orang TI, gak ada setting khusus, cuma nembak IP saja.

Hadeeeh… nembak IP? Istilah apa itu? Saya orang TI gak ngerti istilah nembak IP. Caranya gimana, klik apa, masuk ke menu apa gitu lho…😞

Aplikasi SAS 2018 ini cukup penting soalnya, bisa-bisa gak gajian kalau pengelola keuangan ini gak pakai Aplikasi SAS 2018. Kita sudah menghubungi pengelola keuangan di satuan kerja yang lain, jawabannya nihil, mereka juga gak tau caranya. Gimana sih ini? Aplikasi penting, banyak dipakai orang, tapi minim transfer knowledge.

Saya paham sih, aplikasi ini cuma diinstal sekali setahun, dan para pengelola keuangan juga menggunakan banyak aplikasi primitif lainnya. Pengelola keuangan juga enggan mengganti komputernya karena mereka paham, sekali ganti komputer bakalan repot instal-instal aplikasi keuangan lainya, dan itu sangat mengerikan jika aplikasi baru yang telah diinstal malah tidak berjalan.

Kepada Kementerian Keuangan, tolong bereskan pekerjaan ini, buat sistem yang baik, on-line, permudah dengan frequently asked question, petunjuk teknis dan manual. Dan paling penting, jangan banyak aplikasi lah, integrasi donk, tolonglah, kasihan para pengelola keuangan ini siang, malam sampai sabtu-minggu kerja keras melototin aplikasi, kantung mata mereka sudah membesar, hehee….
😉

Oke gak usah panjang lebar, udah gak sabar kan mau tau caranya? Mau tau aja atau mau tau banget? Ini dia..

1. Buat hubungan server-client. Sebenarnya bukan bentuknya yang seperti server segede gaban juga, komputer biasa sebenarnya bisa kok. Misal  mau ada koneksi beberapa komputer di ruangan dengan Aplikasi SAS, maka anda harus tentukan komputer yang ingin dijadikan server.

2. Pilih komputer sebagai server yang punya spesifikasi tinggi, baik, dan tidak punya kenangan masa lalu dengan mantan, eh.. maksudnya tidak punya sejarah kerusakan di masa lalu. Komputernya harus tinggi, baik, dan pengertian, duh, maksudnya komputernya dalam kondisi baik, terlindungi dengan anti virus, dan sebaiknya memakai USB, eh, UPS, agar kalau mati lampu (anak jaman dulu bilangnya mati lampu) komputernya masih nyala tra..la..la.

3. Cek IP komputer server itu, jika masih DHCP, tolong dibuat manual, caranya gimana? Tinggal telepon staf TI di kantor anda, hahaa…. Gini caranya,






4. Masuk ke Network and Sharing Center, klik di gambar atau tulisan ethernet, lalu klik details. Nanti muncul details alamat jaringan komputer anda, catat, jika DHCP enabled yes, maka perlu dimanualkan.



5. Klik Properties, pilih Internet Protocol Version-4, dan Properties lagi untuk memasukkan secara manual alamat IP dan turunannya, berdasarkan catatan tadi. Ribet ya? Ya udah panggil aja staf TI-nya yah, hahaa…



6. Lalu pada komputer server, temukan folder instalasi Aplikasi SAS 2018, biasanya di Drive C. temukan file notepad txt, namanya IPSERVER. Nah buka dan kosongkan isinya.





7. Kemudian di komputer lain, komputer yang mengakses SAS 2018 dan ingin dikoneksikan dengan server, temukan file notepad txt tadi, namanya sama, IPSERVER, tapi kali ini diisikan alamat IP komputer server.

8. Mudah bukan… voilla!! … Aplikasi SAS 2018 berhasil bekerja, gajian pun lancar. Ternyata yang dimaksud dengan nembak IP itu cuma poin 7 di atas, gitu doank ternyata, tapi jadi beban pikiran berhari-hari karena gak ada di mana-mana caranya.

😊😊

NB: Tujuan saya membuat postingan blog ini adalah untuk transfer of knowledge, karena ternyata caranya sangat mudah, namun kenyataannya banyak pengelola keuangan yang kesulitan. Budayakanlah menulis apa yang anda lakukan, dan lakukanlah apa yang anda tulis. 😉


(trus, Dhis...?!!)

31.1.18

Karya Akhir, Wisuda, S2 Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia (MTI UI) - Habis

Terakhir saya posting tentang kehidupan kuliah di S-2 Magister Teknologi Informasi adalah pada tanggal 20 Juni 2017 yaitu cerita saat kuliah pada tahap Semester III. Sudah lebih dari 6 bulan yang lalu, karena memang ada kesibukan lain dan pindah tugas kerja ke unit yang lain di kantor.

Sekarang Januari 2018, padahal saya lulus Desember 2016, dan wisuda Februari 2017, sudah hampir setahun yang lalu, mudah-mudahan masing ingat ya 😉

Peringatan: 
Tulisan ini sangat panjaaang sekali..

...

saya sudah peringatkan loh ya... risiko tanggung sendiri..

Sebelumnya saya sampaikan kembali tulisan-tulisan saya sbb:

- Awal masuk, ujian SIMAK-UI 
- Semester I 
- Semester II 
- Semester III 

Dilanjutkan dengan penulisan Karya Akhir sebagai berikut.

Alhamdulillah nilai mata kuliah MPPI saya A, eh atau A+ ya, saya lupa, yang jelas saya berhak untuk mengajukan topik KA (Karya Akhir) dan mendapatkan pembimbing di semester III. Artinya saya bisa mengerjakan KA, sambil kuliah berjalan, dan saat itu saya yakin, pasti akan sangat berat. 

Dua minggu pertama awal perkuliahan adalah awal mula mendebarkan, karena kita menunggu email dari sekretariat tentang pengajuan proposal, belum lagi tau apa topiknya, lalu siapa dosen pembimbingnya (dosbing), ini mau dipanggil dosbing atau dospem ya? Kalau dosbing jadi dosen bingung, kalau dospem jadi dosen pembantu, hahaa… 😆

Anyway, email itu datang juga, dimana kita harus mengirim kembali dengan Topik KA, dan usulan judul, nanti oleh sekretariat akan dikompilasi dan dicocokkan dengan dosbing yang available, karena satu dosbing hanya boleh membimbing maksimal 10 mahasiswa. Selain itu juga topik dan usulan judul berpengaruh terhadap pemilihan dosbing. Jadi, ya harus pintar-pintar pilih judul, soalnya saya tidak mau dengan salah satu atau salah dua dosen yang terkenal.. galak.

Bukan galak sih, tapi perfectionist, hahaa…. Soalnya dua dosen itu sangat teramat pintar, mereka berdua sangat logis, ilmiah sekali, mereka tahu dengan tepat kalau kita tidak tahu, dan mereka bertanya hal-hal yang kita tidak tahu, dan pokoknya saya ketakutan bahkan untuk mendengar namanya saja, hehee…

Untuk topik, saya samakan dengan tugas MPPI semester II kemarin, namun judulnya berubah, kemudian pakai ada kata “analisis”nya, dan hindari beberapa kata yang kalau saya liat history KA semester yang lalu, akan dapat dua dosen horor itu. Dan voila..!!, daftar pembimbing dapat dilihat di website, dan saya mendapatkan dosen yang.. saya kurang begitu kenal, hahaa…. Tapi yang jelas dia sering ada di kampus salemba, itu adalah sisi plus, karena banyak dosen yang available di Depok dimana para mahasiswa harus bimbingan ke sana.

Segera saja saya buat proposal KA, yaitu 3 Bab pertama, dibuat dengan express, kasih ke sekretariat untuk mendapat form bimbingan alias kartu kuning. Kartu kuning ini harus tertandatangan sebanyak 8 kali, terisi dengan kolom jadwal, pembahasan dan tanda tangan, setelah 8 kali barulah kita bisa mengajukan sidang KA.

Ketika membuat proposal ya saya harus mencari data dukung sebagai dasar pembuatan KA, ingat mata kuliah MPPI kan ya, saya harus cari data tentang masalah, yaitu ekspektasi, realita, kondisi saat ini, kondisi yang ingin dicapai, dan lain sebagainya. Datanya bisa lihat di dokumen Rencana Strategis, kemudian kondisi saat ini bisa lihat di Laporan Kinerja. Terus bagaimana menuangkannya ke Bab 1 sampai 3? Ya pintar-pintar kita saja.

Ingat lho ya, saya juga sambil kuliah dan kerja, terbayang donk pagi sampai sorenya kerja, lalu kuliah, dan pulang kuliah baru siap jam 11 malam untuk kemudian mengerjakan KA sampai jam 2 pagi, setiap hari dari senin-kamis!! Duh, kalau ingat masa-masa itu sedih, capek banget, tapi heran juga kok kuat yah, di kelas saya cuma 2 orang yang bisa mengerjakan KA, sisanya ya masih leyeh-leyeh hanya berkuliah saja. Memang saya..


Sangat sering saya mengerjakan KA sampai jam 2 pagi, rasanya sudah menjadi kebiasaan. Jaga kesehatan harus, dan juga pastinya minum vitamin.

Bagaimana bagi waktunya? Satu-satunya cara ya mencuri, iya mencuri, mencuri waktu, hahaa….😃 Jadi saya kerja sampai jam 2 siang, make sure pekerjaan sudah beres, baru melipir ke perpustakaan kantor, setiap hari..!! Orang perpustakaan jadi hapal sama saya, tapi bukan untuk meminjam atau membaca buku, tapi numpang mengerjakan KA, bawa laptop, dan tidur, ya tidur!! Saya sangat tidak tahan berlama-lama di depan komputer, mengetik, membaca, dan mikir, karena semua itu membuat saya cepat ngantuk, alhasil saya sering menguap, hahaa…

Back to topic, idealnya, sebuah KA adalah hal yang baru, ada sesuatu yang revolusioner yang bisa kamu usulkan dalam rangka berkontribusi untuk dunia akademik. Tapi ada daya, saya hanya ingin cepat lulus, waktu untuk KA praktis hanya 3 bulan ya, september-desember. Saya tidak mau juga berlama-lama di kampus, mahal bro.. hahaa… ya begitulah, ketika idealisme terpentok kebutuhan. Padahal jiwa saya ya jiwa penemu, inventor, selalu ingin membuat hal yang berguna bagi manusia, ingin belajar, meneliti, tapi ya, cicilan mobil dan tagihan iuran apartemen menunggu, hahaa… 😏

saya pun terjepit, bagaikan atun yang terjepit tanjidor..


Jadi gimana? Saya pintar dalam mengambil jalan pintas, saya orangnya malas, dan kata para petinggi silicon valley, rekrutlah orang malas, karena mereka pasti mencari cara menyelesaikan pekerjaan dengan trik dan dibuat otomatis, hahaa… ya saya begitu, tak terkecuali untuk KA. Saya sudah komit bahwa akan tinggal copy-paste saja dari topik KA sebelumnya dan bedakan saja studi kasusnya.

Bab 1 sampai 3 sudah terstruktur dari tugas MPPI sebelumnya, saya hanya tinggal ubah sesuai judul saja, yang berarti ubah research question (RQ), theoretical framework, tambah tinjauan pustaka berdasarkan RQ, bikin Bab 3 untuk metode, langkah-langkah, dan apa saja yang akan dilakukan. Dan semua itu harus ada referensinya..!! Setiap paragraf yang bertujuan mengarahkan apa yang akan saya lakukan dikaitkan dengan studi kasus saya musti ada rujukan papernya..!! Hahaa…

Saya jadi rajin buka googlescholar, remote-lib, dan lain sebagainya untuk download paper-paper tentang RQ, metode, dan segala macamnya, bukan hanya download, tapi baca, lalu di-highlight, masukkan ke Mendeley, yaitu aplikasi untuk manage paper, bisa connect ke daftar pustaka di word.

Tahu aplikasi Mendeley juga karena tugas matkul e-Government, katanya kalau peneliti yang beneran, atau penulis buku ya pasti butuh aplikasi untuk manage paper, disitu kita bisa search berdasarkan penulis, topik, tahun, highlight, bookmark, dan connect ke daftar pustaka, sampai bisa online dan diakses dari mana saja, wow.!!

Lalu tibalah saatnya janjian dengan dosbing untuk bimbingan, rasanya deg-degan, maklum, saya orangnya introvert, mau berbicara sama orangnya tuh harus dipikirkan dulu mau ngomong apa, alurnya gimana, dan lain-lain sehingga apa yang saya mau omongin ya dicatat dulu. Karena dosbing ini juga saya tidak terlalu kenal, tapi pegang jabatan penting, yaitu Ketua Jurusan..!! Wow. Jadi ya, wajar sih deg-degan. Untungnya si dosbing berkantor di Salemba, saya tinggal menyesuaikan jadwal beliau berkantor, yaitu 3x seminggu.

Setelah saya siapkan materi, pertanyaan, dan daftar obrolan, maka saya tinggal duduk di ruang sekretariat, mendaftar dan menunggu bapaknya berkenan menerima saya. Selain saya juga sudah ada mahasiswa bimbingan lain yang mengantri. Dalam bayangan saya, karena sudah ada beberapa pengalaman teman yang lain, tanggapan dosbing paling buruk ya ditolak misal dengan alasan sudah banyak topiknya, ruang lingkup terlalu kecil, atau dosbing punya topik yang lain, dan bayangan itu semua jadi faktor pendorong untuk merasa was-was, haha..!!

Saya paham sih bahwa musti ada sesuatu yang baru, yang berbeda dengan KA sebelumnya, dengan paper internasionalnya, harus ada keunikan dan kebaruan, nah, tapi kan sejauh mana kebaruan dan keunikannya jadi area subyektif dosen, ya kan. Apalah saya yang hanya ingin cepat lulus dan meniru topik KA sebelumnya? Hehee…

Saya hanya menambah metode saja sih dari topik KA sebelumnya, beberapa metode dan ruang lingkup, kalau sebelumnya hanya mengukur faktor X, saya mengukur tingkat kepentingannya juga untuk sejumlah variabel sebelum menghitung faktor X, kemudian saya juga tambahkan solusi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan variabel dan faktor X, banyak kan ya? hahaa…. 😉

Ya tapi tak dinyana, ketika saya bimbingan pertama kali, bak awan petir menggelegar, si bapaknya tampak tak terkesan, datar saja, nah lho.

Datar aja sih, enggak negatif seperti menolak, tapi gak bersemangat juga, haha… tapi agak sedikit menolak juga, jadi menurut bapaknya masih tetep kurang keterbaruannya, disitu saya argumen bahwa sisi kebaruan saya ada di sini dan di situ, tapi metodenya gimana? Lalu ruang lingkup, lalu rujukan-rujukannya. Si bapak menawarkan atau tepatnya mengusulkan gimana variabelnya ditambah, jadi lebih detail dari sebelumnya.

Di sini saya paham, bapaknya suka berdiskusi, suka kalau kita memiliki argumen, dan menghadirkan referensi apa saja untuk mendukung argumen tersebut. Bapaknya tidak terlalu mementingkan struktur Bab 1 sampai 3 yang sudah saya buat, beliau ingin gambaran besarnya beres dulu. Jadi untuk 1 bulan ke depan kami hanya berdiskusi, yang saya bawa hanya catatan 3-4 lembar saja, seperti alur diagram.

Jadi saya bikin fishbone analysis, dari situ ada tanda panah ke research question, lalu panah lagi ke theoretical framework, dari situ saya tentukan metode, lalu apa saja yang akan saya ukur, nanti hasilnya akan seperti apa. Bahasa kerennya Rich Picture kali ya, kayak Scrapbook, hahaa…. Ya udah, 1 bulan kita argumen disitu, dicoret, dikasih masukan. Saya ketemu beliau hampir tiap minggu, dan setiap ketemu selalu dikasih saran dan masukan, implikasinya adalah saya musti banyak baca.

Jadi si dosbing ini, sebelum saya ketemuan, saya selalu email rich picture saya, dan juga Bab 1 sampai 3 saya, lalu si dosbing akan kirim balik kasih masukan, kadang soal typo, kadang minta klarifikasi, wow..!! Berarti DIBACA sodara-sodara!! Yah ampun. Dan seringnya lagi dikasi paper juga, baik hasil download atau softcopy yang musti saya baca, dan saya tanggapi gimana kemungkinannya untuk ditambahkan ke KA saya, duh, capek, tapi ya mo gimana lagi, saya merasa apa ya…. Saya merasa PINTAR, hahaa..😊😄 soalnya jadi banyak baca, nganalisis, dan menyatakan pendapat dengan didukung paper yang lain. Mulanya sih..


Akhirnya tiba kesepakatan yang dicapai, itu masih berupa rich picture kan ya, saya harus formalkan bahasanya ke bentuk Bab 1-5, Bab 4 kan cuma cerita organisasi, Bab 5 tentang analisis dan pembahasan, jadi ya 5 setengah lah ya. KA saya kan tipenya kuantitatif, dengan pengumpulan datanya berupa kuesioner. Ada kuesioner AHP (Analytic Hierarchy Process) dan juga kuesioner tipe statistik deskriptif. Jumlah pertanyaannya lebih dari 60..!! Itu belum seberapa, jumlah respondennya donk harus minimal 359..!! Karena pakai rumus slovin, katanya jika populasi sekitar 3500 orang, maka hasil itungannya adalah 359, minimal lho ya.

Dan… duh harusnya tidak boleh pakai kata Dan di awal kalimat, menurut pak Ivan Lanin, hehee… Dan saya buta soal statistik..!! Sangat tidak tahu menahu soal statistik, untungnya istri pernah jadi konsultan skripsi dan sering mengerjakan statistik, tapi katanya sudah lupa, hehee.. baiklah, apa boleh buat, saya meluncur ke gramedia, toko buku andalan untuk membeli buku statistik, awalnya 1 buku judulnya statistik apa gitu, warna orange, penulisnya Sujarweni.


Siang malam saya membaca buku statistik, saya tandai hal yang penting, kemudian tampaknya saya perlu beli buku 1 lagi, sebagai pembanding dan lumayan buat menambah referensi, judulnya analisis regresi untuk penelitian, jadi lebih spesifik khusus regresi. Siang malam kembali saya membaca statistik, mumet juga ya, sambil utak-atik software SPSS, ya lumayan, nambah ilmu dengan baca step-by-step.


benar sekali dek..

Itu hanyalah awal kemumetan, tantangan sebenarnya dari segala proses KA ini baru dimulai, yaitu menyusun kuesioner, selain harus ada referensinya, mengikuti KA sebelumnya, atau ada rujukan dari paper, juga harus sesuai kondisi organisasi. Artinya ada ciri khas dari kuesionernya itu. Kebayang gak kuesioner 90 pertanyaan, ada 10 lembar? Itu harus kita buat semenarik mungkin agar responden enggak bosan, bingung, bikin ngantuk, lalu jadi gak mau ngerjainnya lagi. Jadi pilihan kalimat, kata, serta penempatannya harus dipikirkan.

Segera saya susun konsep kuesioner, kemudian saya bimbingan ke dosbing, lalu ada arahan dan masukan untuk mengganti jawabannya sesuai pertanyaannya, jadi gak sesimpel setuju, tidak setuju, tapi juga misal, tahu, sangat tidak tahu, sering, jarang, selalu, dan sebagainya. Oke, kemudian kita bikin dulu 20 buah kuesioner sebelum cetak 500an, 20 orang responden kita minta isi kuesioner sebagai uji coba, lalu kita minta masukan.

Karena juga ada kalimat pertanyaan negatif kan, supaya mengecoh responden agar tetap berpikir, jadi supaya gak selalu jawab monoton saja. Misal contoh pertanyaanya “saya selalu membuka website tidak senonoh di kantor” hayo mo jawab apa? Kalau gak baca teliti bisa terjebak kan.

Masukannya bisa berupa pilihan kata, apakah ada yang bingung, berapa lama ngerjainnya, sampai saran dan kritik. Idealnya ngerjainnya 10-15 menit, klo lebih lama dari itu kita harus rombak kuesionernya. Jika ada masukan, ya kita ubah, kita susun konsep lagi, baru kita bimbingan ke dosen lagi. Jika dosbing oke, maka mulailah cetak 550 buah kuesioner..!! Pakai tukang fotocopy donk tentunya ya, haha…. Terpikir mau cetak di kantor atau beli printer, tapi kayaknya lebih ekonomis pakai fotocopy.

Selain itu saya juga harus melakukan wawancara dengan para pimpinan di kantor saya. Hasil wawancara itu saya gunakan sebagai rujukan untuk menguatkan latar belakang penelitian, dan juga untuk mengkonfimasi indikator dan variabel yang akan saya gunakan. Setelah wawancara, yang sudah saya rekam, saya harus buat transkripsinya, yaitu bentuk formal tulisan dari wawancara itu. Ini yang takes time sangat, misal wawancara 1 jam, maka mentranskripsinya bisa 3 jam, karena saya harus mendengarkan, juga harus sambil menulis.


So it’s begin, menyebarkan 550 kuesioner ke seluruh satuan kerja di kantor, oya sebelumnya juga mencari jenis souvenir yang cocok, yaitu beng-beng, karena saya suka beng-beng. Beli beng-beng di pusat perkulakan Indomaret di Kemayoran, beli sekitar lebih dari 6 dus, setiap dus ada 8 kotak, 1 kotaknya ada 20an, hehee… jadi pusat perkulakan itu memang khusus jual barang yang berdus-dus, untuk dijual lagi, pembelinya ya orang-orang yang punya usaha toko kelontong dan sebagainya.

Saya ke kantor bawa seluruh kuesioner, sementara untuk beng-bengnya saya bawa bertahap dan ditaruh di kantor saja. Beratnya, berat bangeet!! Pakai usaha dan tenaga sendiri tanpa bantuan OB, saya memang segan minta bantuan orang. Saya sudah pikirkan, berarti per satu satuan kerja atau unit Eselon II sekitar 20 kuesioner, 20 saja kok. Tapi ada puluhan eselon II. saya pun mulai memikirkan strategi, saya buat matriksnya per Eselon II, lalu ada contact person yang bertugas di bagian yang sama, namun ditempatkan di Eselon I.

Tak lupa juga sebelumnya membuat konsep email dan membroadcastnya ke seluruh staf kantor, jadi saya akan juga dapatkan isian kuesioner dalam bentuk softcopy. Back to kantor, saya bikin janji dulu dengan teman di satker, lalu saya bawa kuesioner dan beng-beng, misal di Eselon I itu ada 5 eselon II, jadi saya harus bawa 100 kuesioner, dibagi per 20-20, tak lupa juga beng-bengnya. Nah nanti teman saya itu yang akan mengantarkan saya ke setiap Eselon II.

Capek, capek ngomong, memperkenalkan diri, capek senyum, hahaa… menjadi introvert tipe INTJ-A (Architect-Arrogant) bisa sangat melelahkan jika ketemu orang, tidak hanya ketemu tapi senyum, ya senyum..!! 😔

Begitulah dari hari ke hari, menyebarkan kuesioner ke setiap orang yang lagi available di ruangan, mohon-mohon supaya ngisi, bercanda basa-basi, ngasih beng-beng, terus kita gak tau kan kapan mereka akan ngisinya, jadi kita titip ke teman kita tadi untuk pengumpulannya. Target 1 minggu sudah tersebar ya, lalu 2 minggu adalah waktu untuk mengumpulkannya.

Selama penyebaran kuseioner ya ada suka dan dukanya, sukanya jika memang orang-orang yang dituju ramah, dan dengan senang hati menerima, serta mengisi kuesioner, lalu gembira menerima beng-beng, seperti ada kebahagiaan tersendiri, hahaa… 😄

Dukanya itu ya jika orang-orangnya jutek, cuek, nerimanya males-malesan, saya juga kan gak tega ya, tapi yah oh come on, cuma gini doang gitu lho, cuma 10 menit, dapet beng-beng pula. Yang paling ekstrim dan bikin kesel ya kalau ditolak, jutek dan ditolak, gak banyak sih, cuma 2-3 orang, tapi ya kesel aja, bakal inget seumur hidup inget mukanya, apakah..


Rasanya mau balas dendam jika ada kesempatan di masa depan, awas ya kalau butuh saya, hahaa… 😀 ala-ala sinetron.

Tapi ya emang benar, pengalaman ini membuat saya mengerti betapa pentingnya pengisian kuesioner, betapa kita harus merasakan berada di sisi orang lain. Saya mungkin selama ini, sebelumnya tidak mengerti hal itu, ngisi kuesioner ya seadanya, cenderung gak serius, mungkin sebal juga. Padahal ini dibutuhkan orang lain.

Maka dari itu, saya berjanji jika ada orang yang minta bantuan isi kuesioner, ya saya harus bantu, harus serius, harus didukung, karena saya tahu betapa berat perjuangannya mulai dari menyusun, mencetak, menyebar, dan mengumpulkan, itu perjuangan yang BERAT sodara-sodara. Bagaikan..


Kemudian tiba saatnya mengumpulkan, jadi rentang 2 minggu itu ya bertahap pengumpulannya. Lalu selanjutnya apa? Kuesioner sudah terkumpul, softcopy melalui email juga sudah, terus ngapain? Buka-buka lagi deh buku statistik yang dibeli di Gramedia, maka kegiatan selanjutnya adalah melakukan TABULASI.

Jadi tabulasi adalah mengkonversi data jawaban kuesioner ke data angka, misal pertanyaan soal data responden, jawaban umur 20-30 tahun jadi 1, umur 30-40 jadi 2, dst. Intinya merubah jawaban menjadi kode. Kodenya bisa 1,2,3,4,5 atau a,b,c,d. Kemudian untuk jawaban pertanyaan substansi kan pakai skala likert, misal jawaban sangat tidak tahu nilainya 1, sangat tahu nilainya 5, tidak tahu nilainya 2. Juga misal jawaban untuk tidak setuju nilainya 2, sangat tidak setuju nilainya 1, sangat setuju nilainya 5, begitulah seterusnya.

Gunanya apa? Gunanya ya untuk menghitung, misal kalau untuk data responden, kita bisa tahu berapa banyak yang umur 20-30 tahun, berapa banyak laki-laki dan perempuan, berapa banyak yang berpendidikan S-1, semua itu pakai rumus countif di excel. Kemudian kalau untuk pertanyaan substansi kita bisa ukur berapa persen kepuasan responden, tingkat pemahamannya, tingkat pengetahuannya dsb. Selain itu juga dengan dikonversi ke angka, kita akan menghitung PENGARUHNYA sebagai HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT antar variabel, atau dengan SPSS pakai metode regresi.

Regresi yaitu menghitung seberapa besar pengaruh hubungan sebab-akibat suatu variabel terhadap variabel lainnya, pakai SPSS. Nah semua itu kan pakai angka, jadi kita harus konversi setiap lembar kuesioner, ke dalam tabel excel, setiap lembarnya..!! Satu per satu..!! 400an lebih..!! Hahaa…. Gilak gak tuh. Saya pun mentabulasi kuesioner dimanapun dan kapanpun, saya bawa ke kantor, ke kampus, ke mall, kemana saja pokoknya, hahaa…

Anda tahu betapa pentingnya kegiatan tabulasi jika sudah mengkonversi waktu mentabulasi kuesioner dengan kegiatan anda, dan saya mampu maksimal mentabulasi 20 kuesioner untuk waktu 1 jam, itu sudah paling cepat banget. Jadi kalau saya sudah bisa memprediksi nih, saya punya waktu luang 2 jam, maka saya bisa tabulasi 40 kuesioner. Atau saya mau tidur, tapi 1 jam dulu deh untuk tabulasi kuesioner, maka saya hanya dapat 20 saja. Atau kalau saya melakukan kegiatan sia-sia seperti menunggu, misal 2 jam, maka saya bersumpah serapah kesal karena telah menyia-nyiakan tabulasi 40 kuesioner, hehee…

Saya pun mentabulasi kuesioner di kampus, saat kuliah pelajaran yang lain, maklum kan saya juga masih sambil kuliah full 4 mata kuliah, jadi saya biasanya melipir ke paling pojok dan di belakang, kemudian mulai beraksi mentabulasi diam-diam. Hehee….

Capek memang, lelah, satu per satu kuesioner kita screening, tabulasi ke excel, oya sebelumnya kita tandain kuesionernya, kasih nomor sesuai urutan di excel, 1,2,3, sampai 400an..!! Dan rasanya senang sekali ketika sudah selesai, namun petualangan baru akan segera dimulai, kali ini lebih banyak menggunakan excel dan SPSS.

Di aplikasi excel kita rapihkan datanya, kita hitung tentang segala data responden, persentasenya, kemudian kita rata-ratakan setiap variabel, nah hasil rata-rata variabel ini yang akan dipakai untuk hitung regresi. Sebelumnya juga hitung normalitas, apakah data kita normal atau enggak dan layak atau enggak untuk dilanjutkan perhitungan. Kalau tidak normal wah wasalam, ulang lagi sebar kuesioner, mati aja deh, hahaa… 😅

Kalau tidak normal, ya lakukan normalisasi, dan ubah sudut pandang. Statistik adalah tentang sudut pandang, karena pada dasarnya yang diolah hanyalah sekumpulan data. Data itu belum menjadi informasi kalau belum dikasih sentuhan sudut pandang, ya kan.

Okey, utak-atik excel, export ke SPSS, cari nilai R Square atau keterpengaruhan berdasarkan hipotesis, misal kita buat hipotesis dulu A berpengaruh terhadap B, maka nilai R Square adalah persentase keterpengaruhannya, nilai beta adalah nilai jika A naik satu satuan, maka B akan naik sebesar Beta. fiiuuhh… gitulah ya pokoknya.

Hitungan paling rumit mungkin di statistik deskriptifnya, karena banyak yang harus diungkap sedetailnya-detailnya, misal untuk Variabel A punya 8 indikator, yang delapan-delapannya kita ungkap persentasenya, dan juga per identitas responden yang dibagi jenis kelamin, pendidikan, umur, dan sebagainya, wah pokoknya, banyak angka-angka kode berwarna juga untuk mewarnai misal yang nilainya dibawah 60 warna merah, yang dibawah nilai 80 warna biru muda. Pokoknya KA saya berwarna-warni, hahaa…

Setelah saya pikir, sepertinya ini waktu yang tepat untuk beli printer, setelah dihitung-hitung, lebih ekonomis beli printer, hahaa... printer yang tintanya pakai cairan gitu, ada tabungnya, namanya infuse ink, jadi lebih hemat. Pikir saya nanti kalau sudah selesai, bisa dijual lagi. Dan benar saja, setelah selesai proses semua ini, saya jual laku loh 50 persennya..!! tetap untung dibanding fotocopy.


Back to topic, kini saatnya menulis Bab 5 tentang Analisis dan Pembahasan serta Bab 6 Penutup, Kesimpulan dan Saran juga sambil sering konsultasi dengan pak dosbing, apa yang menurut saya sudah cukup, dosbing selalu bisa memberikan sudut pandang lain, minta ditambah dan ditambah, menulis dan menulis terus sampai detail, hehee… saya merasa DIPERAS dalam arti yang baik. Saya juga bingung ketika baca kembali KA saya, kok bisa ya saya nulis panjang lebar dan detail seperti itu.

Selain analisis, dosbing berpendapat bahwa yang harus dikuatkan dan diperjelas adalah di sub bab diskusi, nah disitulah kita harus memberikan pendapat, bahwa berdasarkan hasil-hasil yang sudah kita hitung apa yang bisa kita ambil, kita jawab kenapanya sambil dikaitkan dengan hasil wawancara dan rujukan paper atau buku. Setelah diskusi maka kita ajukan solusi berdasarkan ciri khas studi kasus organisasi, disitu harus jelas dan unik.

Lalu tibalah saatnya saya merasa cukup, bahwa yang saya tulis ini sepertinya udah banyak ya, lebih dari 120 halaman lho, capek pokoknya, haha…. Maka si dosbing ini langsung menghubungi sekretariat untuk memasukkan saya ke jadwal sidang. Wow..!! Saya bahkan belum daftar sidang dan sedang mengumpulkan keberanian, hehe… eh dosbing pengen saya sidang cepat-cepat..!!

Hanya 2 hari waktu saya untuk mempersiapkan segalanya menuju sidang, karena tiba-tiba dapet kabar saya akan sidang lusa, yang artinya saya harus sudah mempersiapkan 4 hardcopy KA lengkap dengan lampirannya, plus presentasi..!!

I was going crazy and shocked..!! Hahaa… saya butuh 30 menit untuk bengong, lalu kemudian barulah saya susun strategi apa yang harus saya lakukan. Pertama, saya harus perbaiki tulisan serapih mungkin, kedua saya harus print sebanyak 4 bundel hardcopy, dan karena banyak yang berwarna maka harus print sendiri pakai printer yang baru beli di rumah. Ketiga, membuat presentasi untuk 20 menit, harus cukup menjelaskan dari Bab 1 sampai Bab 6. Dan terakhir, membuat combat kit, semacam ringkasan jawaban dari kemungkinan-kemungkinan pertanyan yang akan diajukan.

Fiiuuh…. Pokoknya gak mengerti lagi deh pikiran udah seperti apa, melayang aja gitu, buru-buru selesaikan tulisan, lalu print 4 bundel hardcopy, dan mencetak itu, luamaaa banget ya..!! Hehee…. Jadi buat anda-anda yang megerjakan tesis, sisakan spare waktu untuk mencetak yah. Begitulah 2 hari saya habiskan untuk mencetak siang malam, sembari mencari jawaban dari kemungkinan-kemungkinan pertanyaan, yang walau kelihatan sepele, tapi kalau gak bisa jawab ya malu juga yah.

Misal pertanyaan apa itu statistik deskriptif, apa itu normalisasi, apa itu uji satu arah dan dua arah, apa perbedaan skala likert dan rating scale, apa itu nilai R Square, yah yang begitu-begitulah yah. Tak lupa juga pinjem buku perpustakaan dari Pak Wiryo staf sekretariat di perpustakaan terkait hal-hal yang relevan, pokoknya dibuat sesiap mungkin!!, hehee…

JRENG…JRENG…!! Tibalah saatnya sidang KA/Tesis S2 MTI UI tanggal 22 Desember 2016, hari Kamis, juga bertepatan dengan Mata Kuliah e-Government, jadi sesudah sidang saya tetap masih harus kuliah, hahaa…. Sidangnya sekitar jam 4-5 sore, dan harus sudah ada di tempat 1 jam sebelumnya. Saya sudah mengambil cuti selama 1 minggu untuk fokus mengurus penyelesaian tulisan KA, eh dapet bonus sidangnya juga, hehee…

Deg-degan.. sangat, jadi pada hari itu juga banyak yang akan sidang, kebanyakan dari semester yang lalu, saya menunggu orang yang sedang di dalam, dan ada juga yang akan sidang setelah saya, semua menunggu dipanggil oleh sekretariat. Orang yang sedang sidang sebelum saya, ketika keluar dan sudah selesai langsung diberi ucapan selamat, karena ya secara de facto sudah lulus, tinggal nunggu nilai aja, lalu ditanya-tanya tadi gimana, ngapain aja, ditanya apa saja, dan lain sebagainya. Saya?

Akhirnya nama saya dipanggil, dan saya merasa..


Saya sudah siapkan hardcopy dengan berbagai macam posted-it untuk menandai hal-hal yang penting, juga sejumlah buku-buku perpustakaan juga sudah siap, kemudian handphone juga disiapkan untuk timer 20 menit, supaya saya tetap aware terhadap waktu presentasi. Di dalam ruangan ada dosbing dan 2 orang penguji, 1 orang penguji saya kenal, bapaknya baik, lucu dan ceritanya selalu kekinian dan menginspirasi, yang 1 lagi saya tidak kenal, mungkin karena tidak pernah mengajar di kelas saya.

Deg-degan masih donk, padahal udah tua yah, hahaa… masih aja deg-degan, gitu kata Pak Ganda, staf sekretariat MTI. Saya, yang sudah pernah tinggal di Eropa selama 3 tahun, sudah pernah menyetir 600 Km pulang pergi ke Milan melewati terowongan menembus gunung yang terpanjang di Eropa, masih saja deg-degan…. Hahaa…. 😋

Dalam hati saya, ya sudah, whatever will be, will be, mau bagus atau jelek, yang penting sudah selesai. Saya selalu berkata begitu dalam hati ketika dalam situasi menegangkan. Bahwa apapun yang kita hadapi, pasti akan berlalu juga kan, toh waktu tidak bisa dipercepat atau diperlambat, kita cuma bisa jalani saja.

Sidang dibuka oleh dosbing, eh dosbing atau salah satu penguji yah, pokoknya beliau menyampaikan susunan acaranya, dimulai dengan presentasi 20 menit, kemudian tanya jawab, jawab dengan jelas dan sesuai apa yang ditulis, maksimal waktu sidang adalah 1 jam, yak segera dimulai..!!

Langsung saja saya sampaikan salam pembuka, dan mulai presentasi, dari Bab 1 sampai akhir saya merasa lancar-lancar saja, saya tidak membaca layar, tapi bercerita sambil menghadap penguji, saya kira itu poin penting ketika melakukan presentasi, yaitu jangan membaca layar, namun bertatap muka dengan audiens.

Kemudian saya bilang selesai, dan si penguji bertanya sudah selesai? Karena tampaknya kecepatan, tapi bener kok udah mo hampir 20 menit, hehee… ini karena semuanya, dosbing dan penguji sibuk main hape, tapi bukannya tidak mendengarkan lho ya, mereka sangat menyimak. Lalu tibalah pertanyaan-pertanyaan itu. Pertama dari penguji yang saya tidak kenal.

Beruntung, pertanyaan-pertanyaan dari penguji pertama tidak terlalu sulit, saya kira memang untuk menguji apakah benar kita yang mengerjakan, jadi sebenarnya jawabannya memang sudah ada di slide dan tulisan, kadang saya rujuk dengan tulisan di halaman sekian, atau jika ada di slide saya tunjukkan slidenya, begitulah, tampaknya untuk menguji sisi mental kita. 

Pertanyaannya misal keterkaitan antara Research Question (RQ) dengan kesimpulannya, apakah kesimpulannya menjawab RQ? Coba tunjukkan data dan hitungannya, kemudian ditanya rujukan-rujukan papernya, apa paper yang paling utama. Kemudian apa implikasi dari penelitian ini, apa harapannya? Kemudian apa yang bisa ditambah untuk penelitian selanjutnya.


Alhamdulillah pertanyaan penguji satu selesai bersamaan dengan Adzan Maghrib, dan seharusnya dilanjut dengan istirahat sholat, tapi semuanya gak mau, dilanjut sidang saja dengan sholat yang bergantian, jadinya sepi deh. Tapi ini justru keberuntungan. Untungnya adalah penguji jadi ingin cepat selesai, ya sama pak saya juga ingin cepat selesai, hahaa… 😆

Kemudian lanjut dengan pertanyaan dari penguji kedua, dia bilang sih baik-baik aja, cuman kenapa di cerita organisasi dan latar belakang gak ada tentang Peraturan Menteri terbaru terkait dengan topik penelitian? WOW..!! si penguji ini sangat mengerti sekali tentang kondisi lingkungan organisasi saya, secara sering diminta sebagai konsultan, dan juga banyak alumni yang jadi teman baik beliau yang juga staf di organisasi saya.

Yah jadinya hal itu menjadi masukan untuk ditambahkan ke tulisan saya, istilahnya revisi. Lalu apa? Lalu SELESAI..!! iya selesai, hanya 30 menit saja, rasanya juga tidak percaya. Teman dan orang-orang yang duduk di bangku penonton juga tidak percaya saya menyelesaikan sidang hanya dalam waktu 30 menit..!! saya terperangah tak percaya, beneran kah? Ternyata benar. Segera saya rapihkan meja sidang, dan bawa semua buku dan senjata-senjata saya keluar ruangan untuk menunggu.

Ceritanya para dosbing dan penguji sedang berdiskusi untuk menentukan kelulusan saya, dan ada berkas-berkas yang harus ditandatangani, misal form revisi yang berisi catatan-catatan dosbing dan penguji. Jadi mereka bisa coret-coret di tulisan saya, atau tulis di form. Hal itulah yang menjadi dasar revisi tulisan. Kemudian saya dipanggil lagi masuk ke dalam.

Saya dinyatakan LULUS..!! lalu menerima form revisi dari dosbing. Saya keluar lagi, lalu ditanya-tanya oleh teman tentang pengalaman sidang tadi, jujur saya masih melayang dan tidak percaya. Diantaranya ya itu, cepat sekali..!! hehee… hal pertama yang saya lakukan ya tentu bersyukur ya, Alhamdulillah, sholat magrib, makan secepatnya, kemudian ikut kuliah lagi. Teman yang sedang kuliah tidak tau kalau saya barusan sidang, karena kuliahnya ini gabung sama anak semester I yang masih unyu-unyu.

Saya pulang dengan perasaan LEGA..!! perasaan paling lega dalam sejarah hidup saya, atau nomor 3 ya, yang pertama itu setelah selesai sidang Tugas Akhir Diploma III Teknik Elektro Politeknik UI, yang ke-2 setelah selesai sidang skripsi S-1, hahaa… Sepanjang jalan senyum terus, pokoknya malam ini harus menjadi malam dengan tidur ternyenyak saya semenjak kuliah satu setengah tahun yang lalu. Alhamdulillah… Alhamdulillah…. Tak berhenti saya ucapkan...


Revisi adalah 1 minggu, dan saya membuat form revisi berisi catatan apa saja yang menjadi arahan dan masukan dosen, dibuatkan dalam bentuk tabel dan ada kolom ceklist serta tanda tangan penguji. Saya harus perbaiki tulisan berdasarkan catatan dosbing dan penguji, kemudian setelah selesai ajukan ke penguji dan dosbing, nanti mereka semua akan memeriksa apakah revisi saya sudah beres atau belum.

Jika sudah beres ke penguji, barulah ke dosbing, jika sudah beres semua, maka semuanya, dosbing dan penguji menandatangani lembar pengesahan, yang mengesahkan tulisan saya sebagai Karya Akhir yang sah dan lulus, hehee… untuk tanda tangan lembar pengesahan juga gak mudah loh, saya sering banget bolak-balik karena kesalahan penulisan nama dan gelar. Ada salah satu penguji yang saya sampe minta tanda tangan 3 kali, hahaa…. Untung bapaknya baik banget.

Setelah dapat halaman pengesahan, maka saatnya membuat hardcopy jilid keras untuk diberikan ke perpustakaan, tapi itu juga tidak mudah, harus melewati serangkaian standar format perpustakaan. Pak Wiryo staf perpustakaan gak akan segan-segan mencoret tulisan kita kalau tidak sesuai standar, semua ada hitungannya, ada footer, kemudian kata-katanya, spasinya, paragarafnya, nomor halaman angka dan huruf, kemudian juga diukur pakai penggaris, wah rumit.

Jika sidang ala Pak Wiryo sudah lulus, barulah tulisan kita di halaman pengesahan dicap fakultas, tandanya sudah SAH..!! saya sidang tanggal 22 Desember 2016, dan beruntung dipotong libur natal dan tahun baru sehingga saya bisa punya waktu revisi yang panjang, sehingga tulisan saya dicap dan disahkan tanggal 4 Januari 2017, yiippieee..!! SAH..!!

Dengan ini maka saya sah untuk mendaftarkan diri wisuda, ya… WISUDA.. selama masa menunggu wisuda paling menyiapkan softcopy KA untuk perpustakaan dan pas foto untuk ijazah. Foto rumit juga sampai bolak-balik 3x ke foto studio, haha…. Jadi bajunya harus terang, putihlah ya, karena cap birunya harus kelihatan. Awalnya saya pakai jas dan dasi, dan tentu saja ditolak mentah-mentah.

Hari-hari menunggu wisuda tentu melakukan persiapan wisuda, dimulai dari pengambilan baju toga, merencanakan pakaiannya, transportasinya, lalu lokasinya, hehee… tidak tanggung-tanggung, wisuda UI itu 3 hari berturut-turut, 3 HARI..!! terbayang 3 hari bangun pagi-pagi terus, hahaa… 😃

Hari pertama adalah Wisuda Fakultas, ini wisuda khusus mahasiswa seangkatan dari S-1 sampai S-3 di Fakultas saya saja, yaitu Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom). Sejak pagi kami sudah bersiap-siap, saya, istri, ibu saya dan ibu istri juga kami boyong. Kan istri saya juga wisuda, lupa ya? Saya dan istri adalah sama-sama mahasiswa MTI UI, dengan angkatan yang sama, namun beda kelas.

Jadi semua yang saya ceritakan sebelumnya ya kurang lebih juga dialami oleh istri saya. Hanya saja dosbing istri saya ada 2, dan selalu available di Depok, jadi ya sering bimbingannya jarak jauh, pernah lho bimbingan via skype di saat kami sedang menghadiri undangan pernikahan sepupu, bimbingan sambil pakai kebaya jadinya, hahaa…

Back to wisuda hari pertama, yaitu wisuda fakultas. Semua tampak bahagia, senang, dan lega karena sudah lulus. Yang S-3, yang S-2, dan yang paling ramai adalah anak-anak S-1, UI gitu lho..!! ini adalah kampus impian saya sejak kecil, namun baru kesampaian di jenjang S-2, Alhamdulillah.

Kami sampai sejak pagi sekali, masih gelap sepertinya, karena kami sangat bersemangat untuk wisuda, hehee.. ibu kami berdua juga tak kalah heboh mulai dari awal memilih pakaian, sepatu, dan sampai di tempat pun heboh foto-foto. Segera saja kami berdua berganti pakaian toga, dan ibu kami duduk di tempat undangan.

Karena acara belum mulai, maka kami sekeluarga berfoto studio khas wisuda yang telah disediakan panitia, beruntung kami datang pagi sehingga bisa seperti itu, kalau tidak harus menunggu acara selesai nanti, sudah lepek kan jadinya, hehee… Kemudian acara dimulai dengan prosesi iring-iringan mahasiswa sesuai tempat duduk. Yang cumlaude duduk di depan, jadi tempat duduknya sudah ada nama-namanya. Saya dan istri terpisah dekat saja sih, gak terlalu depan juga. Padahal saya dengar IPK saya tertinggi, ternyata gak setinggi itu..uhuk..uhuk… 😋

Hal lain yang membuat saya excited adalah, mungkin ini pengalaman wisuda saya yang benar-benar wisuda. Waktu D-III tampaknya saya mengalami hal buruk, urusan keluarga, dan sampai pas wisudanya juga tidak bagus di mata saya, hahaa… maksudnya gimana? Mungkin karena kekurangan informasi kali ya, jadi wisudanya 2 hari, hari pertama gladi resik, dan hari kedua wisuda beneran.

Waktu D-III malah gladi resik yang kita dipanggil satu per satu, dan difoto..!! padahal baju masih biasa aja dan gak ada orang tua. Eh pas besoknya wisuda beneran malah gak dipanggil dan gak difoto padahal ada orang tua dan udah pake baju bagus juga, hahaa… 😃 bener-bener pengalaman buruk. Waktu S-1 saya tidak ikut wisuda, sudah malas duluan.

Nah, wisuda kali ini beda, saya sudah siap, kami sudah siap bertempur untuk tampil kece badai, dan juga saya sudah tanya-tanya temen yang pernah wisuda S-1 UI. Katanya akan dipanggil namanya satu per satu, disebutin judul KA-nya, dan status kelulusannya..!! wow..!!

Acara dimulai dengan biasa ya, sambutan Ketua Panitia, Dekan, Ketua Jurusan, dan Lulusan Terbaik yang ternyata anak S-1 Fasilkom dan IPK-nya nyaris 4. Yang pidato siapa? BAPAKNYA..!! hehee… lucu juga ya, dan sangat menginspirasi. Bapaknya pasti bangga sekali dengan anaknya, katanya dulu waktu anaknya masih kecil sering dibawa main ke UI, lalu diperkenalkan ke orang-orang bahwa anaknya itu akan menjadi lulusan terbaik UI, dan ternyata kejadian..!! selamat ya pak. saya sampai terharu..


Di setiap acara itu selalu ada persembahan musik dari artis-artis lokal Fasilkom, ada yang bagus, ada yang enggak, tapi semua fun saja sih, hehee…. Acara intinya adalah wisuda, yaitu pemanggilan mahasiswa, penyebutan status kelulusan, lalu menerima tabung dari dosen, foto, selesai, intinya itu aja sih. Dari S-3, sampai S-1. Ketika nama saya disebut, Yudhistira Normandia, dengan judul Karya Akhir bla…bla… dengan predikat CUM LAUDE..!! dengan nada yang sama ketika memanggil petinju, hehee…. Lucu, dan bangga.

Yang kita noticed adalah tidak ada pemindahan tali toga, tapi dikasih tabung, tabung yang harus kita balikin lagi setelah selesai foto karena akan dipakai mahasiswa berikutnya.

S-3 sudah, S-2 sudah, S-1 paling ramai karena paling banyak dan masih anak-anak juga kali yah. Setelah semua sudah dipanggil, kini dipanggil lagi untuk yang cum laude. Jadi bagi yang cum laude dipanggil lagi maju ke depan, S-3, S-2, dan S-1 untuk menerima medali cum laude dan berfoto bersama bersama dekan. Dan ini semua disaksikan oleh orang tua kami, bangga rasanya.


Medali di atas adalah medali sementara, karena katanya vendor yang mengerjakannya di senen, dan pada masa itu kawasan senen sedang KEBAKARAN..!!

Kemudian, belum berhenti sampai disitu, saya juga dipanggil lagi untuk ketiga kalinya karena termasuk dalam lulusan terbaik, walau saya merasa bukan lulusan terbaik sih, hanya IPK tertinggi. Kami menerima plakat yang menyatakan sudah berkuliah di MTI UI, sudah itu saja, tidak ada kata-kata lulusan terbaiknya, hahaa… 😉


Bangga rasanya… itu saja sebenarnya, dan orang tua kami juga bangga, tapi jangan lupa, masih ada 2 hari wisuda lainnya. Acara wisuda fakultas selesai, orang tua kami juga sudah lelah, dan katanya untuk acara besok tidak ikut lagi, baiklah, karena besok adalah acara wisuda se-UI yang pastinya akan sangat ramai, lagi pula tidak ada penghargaan yang diberikan kepada kami, nilai kami kurang tinggi se-UI soalnya, hehee…

Wisuda hari kedua adalah acara gladi resik wisuda UI untuk S-2 dan S-3, sementara S-1 ada di sesi pagi, jadi dalam sehari ada 2 kali acara wisuda UI, sesi 1 untuk S-1, dan sesi 2 untuk S-2 dan S-3. Waktu gladi resik kami di sesi siang, sementara besok kami di sesi pagi. Berkaca pada pengalaman wisuda D-III saya dulu di tempat yang sama, gladi resik itu latihan tapi serius, karena kami dipanggil satu-satu ke depan untuk menerima ucapan selamat dari dekan dan rektor, menerima tabung, berfoto dan selesai, bergiliran untuk semua fakultas loh..!! lama pokoknya.

Kami beruntung datang lebih awal, karena masih sepi, selain dapat parkir, kami juga bisa bebas berfoto dimana saja. Dan saya, jiwa selfie saya yang liar pun tak akan bisa dikekang, hahaa… saya ingat sayalah yang pertama memberanikan diri berfoto di.. PODIUM..!! 😅 kemudian barulah diikuti oleh orang-orang lainnya. Jadi kalau anda mau wisuda, datanglah lebih awal demi foto terbaik. 


Saya tidak ingat apakah nama kami juga disebut satu-satu, rasanya tidak ya, yang disebut hanya yang IPK tertinggi sefakultas, iya sefakultas, bukan sejurusan, syedih, hahaa.. jadinya nama saya tidak disebut. Kemudian seperti biasa ada acara musiknya, dan kali ini terdengar sangat profesional ya, karena anak UI memang banyak yang jadi artis kan ya. Sisa acara lain sambutan sana sini, ada kuliah umum, ada ikrar janji wisudawan. Inti dari kegiatan ini adalah FOTO yang akan diambil nanti sekalian dengan videonya.

Berikutnya wisuda hari ketiga, inilah wisuda benerannya, bedanya sama kemarin? Lebih membosankan sebenarnya, karena sudah tidak dipanggil maju ke depan satu-satu, dan sudah tidak ada sesi foto-foto. Jadi untuk apa? Kalau saya pribadi ingin mendengar lagu gaudeamus igitur, itu loh lagu wajib wisuda yang sering dinyanyikan di setiap wisuda, baik kampus dalam negeri atau kampus luar negeri.

Mau dengar lagu gaudeamus igitur? Klik disini.. 

Bagi saya merinding mendengarkannya, ketika masuk semester III, saya sudah ubah ringtone saya menjadi lagu gaudeamus igitur, semacam untuk menjadi motivasi supaya cepat lulus, hahaa... and it’s works..!! dan sampai sekarangpun ringtone saya masih gaudeamus igitur, hehee...

Namun, alangkah kecewanya saya ketika prosesi akademik, ketika rektor dan iring-iringan guru besar kampus tidak dibarengi oleh lagu gaudeamus igitur, melainkan lagu bagimu negeri. Ya.. mungkin.. entahlah... apakah dianggap tidak nasionalis? Mungkin aturan baru dari pihak berwenang? Mungkin. Ya sudah, nikmati saja rangkaian acaranya.

Sebenarnya banyak mahasiswa yang tidak ikut wisuda hari ketiga, karena memang ya tidak melakukan apa-apa, kecuali kalau anda pemilik IPK tertinggi sefakultas karena akan dipanggil maju ke depan, worthed lah ya. Namun tak apa, tetap pengalaman yang berharga bagi kami.

Setelah selesai semua rangkaian acara wisuda, maka semua mahasiswa melakukan satu kegiatan akhir yang wajib, yaitu berfoto dengan latar gedung rektorat UI, gedung fenomenal yang menyihir anak muda Indonesia untuk berlomba-lomba masuk UI. Rasanya tidak akan pernah kehilangan rasa keren dan bangga jika orang tua memiliki foto anaknya wisuda dengan latar belakang gedung rektorat UI dan dipajang di ruang tamu, ya, kami melakukan itu, seperti  ini...


Setelah puas berfoto-foto, selfie, berdua, dengan teman seangkatan, maka semua mahasiswa ketawa-ketawa, semua wajah menunjukkan ekspresi bahagia, senang. Seakan tidak mau cepat pulang dan tidak mau cepat kehilangan momen ini.

Wisuda adalah salah satu hari yang paling bahagia sepanjang usia. 

Berikutnya apa? Ya ke studio foto lah, hahaa... maka pada hari itu semua studio foto se-Depok dipastikan penuh dan mengantri. Saya ke studio foto di dekat rumah saya dan ketemuan dengan keluarga di sana. Kami berfoto dengan orangtua, adik, dan adik ipar, lengkap pokoknya..!! untuk apa? Untuk dipajang donk.


AKHIRNYA... selesai juga rangkaian tulisan saya tentang berkuliah di S2 MTI UI, untuk pribadi saya sendiri tulisan ini akan selalu saya baca untuk mengenang perjalanan saya ketika berkuliah disana. Berat memang, penuh perjuangan, dengan keringat, darah (mimisan), dan air mata. Momen bersama teman sekelas, teman seangkatan, dosen pengajar, penguji, dan dosen pembimbing akan selalu menginspirasi saya.

Terakhir saya kutip dari status FB saya dalam rangka memperingati 1 tahun sidang sebagai berikut: 

“S2 adalah tentang problem solving, dengan masalah dan solusi yang harus nyata. S2 adalah tentang membangun relasi, diskusi, wawancara, dan menggali ide dari setiap pikiran orang-orang. Maka lanjutkanlah sampai S2 kawan, jika ada kesempatan” 

Untuk khalayak, mohon ambil baiknya dan jangan tiru yang buruk, jangan ditiru yah, please.. hehee...  😏

Terima kasih sudah membaca..

NB: benar kata asdos MPPI, selepas kuliah, kita akan kebingungan menghabiskan waktu malam, karena sudah tidak ada kerjaan, tugas, atau yang lainnya. Yang ada kita akan bengong, mungkin harus kuliah lagi, lanjut ke S-3?
(trus, Dhis...?!!)

29.9.17

The Reason I have Trust Issue With People

Adalah ketika sejumlah orang yang berkumpul dengan hitungan yang signifikan, dan bertingkah normal, seperti tak terjadi apa-apa, padahal ada hal yang seharusnya menjadi perhatian serius terkait kepentingan bersama. Contoh, saya benci masa-masa sekolah, SD, SMP, SMA, bukanlah masa-masa terbaik saya, mengapa? karena toiletnya sangat JOROK dan tak layak sekali. lalu hubungannya dengan trust issue?

Ya semua orang disitu pasti setidaknya sekali sehari ke toilet entah untuk pipis atau pup, nah, di semua sekolah yang saya jalani, toiletnya sangat tidak layak untuk manusia, pipis pun harus menutup hidung, apalagi pup, lebih baik tahan sampai di rumah. lantas orang-orangnya, murid-muridnya, guru-gurunya bisa saja bertingkah normal, ketawa-ketiwi, berhaha-hihi, berngoceh ria soal kewarganegaraan lah, kebersihan sebagian dari iman lah, hormat-menghormati lah, hukum gravitasi lah, hukum gerak newton lah, hukum kekekalan momentum lah, sistem pencernaan lah, sistem pembakaran di dalam sel lah. Tapi, toiletnya sangat JOROK padahal dipakai secara bersama-sama.

Disitu saya menganggap semua orang yang ada disitu, muridnya, gurunya, semuanya ORANG GILA!! atau ada kelainan mental, entah miris, entah mau ketawa saya juga 😃

Sama halnya dengan solat jumat, ya kita bisa tertib solat berbaris bersaf panjang, tapi lihat di luar sana, sendal dan sepatu bau busuk bertebaran di pintu gerbang atau di tangga mesjid, dan lagi-lagi orang-orangnya bertingkah normal seperti tidak terjadi apa-apa. dasar ORANG GILA!! 😄
(trus, Dhis...?!!)

3.8.17

Membumikan Al-Quran -Quraish Shihab-

Tak lazim memang seorang anak kecil mengidolakan Quraish Shihab, di saat anak-anak yang lain sibuk bermain bola setiap sore, berlarian kesana kemari, saling mengejek dan tertawa, namun saya mengidolakan beliau. Bermula dari tugas mengisi buku kegiatan ramadhan yang wajib dilakukan oleh anak sekolah, dari sejak SD sampai SMA, saya lebih memilih menulis ceramah dari media televisi, bukan ceramah di mesjid selepas solat tarawih.

Pertama karena tentu malas minta tanda tangan sang ustadz yang juga harus berebutan dengan anak-anak lain. Kedua adalah karena jika lewat televisi, saya bisa mengembangkan satu ceramah menjadi 2-3 ceramah, tak perlu tanda tangan pula, alhasil buku kegiatan ramadhan saya bisa cepat selesai dari waktu yang ditentukan. Ya, saya suka mengerjakan sesuatu lebih cepat dari seharusnya.

Saya suka ceramahnya yang pertama adalah logis, sesuai dengan keseharian kita semua, dan masuk akal. Bicaranya pelan dan agak terbata-bata, mungkin akan sulit bagi orang yang tidak sabar, padahal pemahaman akan ceramahnya akan didapat jika mendengar dari awal sampai akhir. Beliau menjelaskan dengan runut setiap tema permasalahan, dan satu lagi, beliau selalu menjelaskan akar kata setiap kata kunci yang menjadi tema. Dari situ kita pasti mengerti bahwa beliau adalah pakar bahasa arab, dan pengetahuan berbahasa arab adalah kunci untuk memahami Al-Quran.

Lalu mengapa saya tertarik dengan Al-Quran? Karena Al-Quran adalah misteri, sekaligus magnet yang menarik banyak orang, untuk berbuat baik ataupun jahat. Al-Quran itu netral, jika anda orang baik, anda akan temukan banyak ayat untuk mendukung perbuatan baik anda, dan jika memang dari sananya anda orang jahat, anda akan menemukan banyak ayat juga untuk mendukung perbuatan jahat anda, setidaknya anda berlaku jahat karena anda yakin akan dimaafkan nantinya kan? Begitulah Al-Quran.

Al-Quran diturunkan dengan bahasa arab, bahasa yang memiliki perbendaharaan kata terbanyak di dunia. Saya sering mengibaratkan dengan flashdisk, misal bahasa indonesia adalah flashdisk dengan kapasitas sekian Giga, maka bahasa arab adalah flashdisk dengan kapasitas sekian Tera atau lebih tinggi lagi, mengapa itu penting? Karena menyangkut keutuhan data dan informasi. Dengan perbendaharaan kata yang banyak, maka Tuhan bisa menyampaikan informasi dengan lengkap dan akurat tanpa harus menggunakan penjelasan bertele-tele, karena Tuhan punya kata yang tepat untuk suatu maksud tersebut.

Banyak hal dalam pikiran saya mengenai Al-Quran, misal apa itu agama, apa itu islam, apa tujuan kita hidup, apa itu manusia, segala hal lainnya yang intinya untuk meneguhkan keimanan saya. Dan hal itu sulit saya temui pada penceramah yang lain, biasanya mereka hanya mengutip ayat dari Al-Quran lalu menjelaskan dan pakai ilmu cocoklogi. Tapi tidak dengan Quraish Shihab, beliau akan menjelaskan dengan ilmu kebahasaan, kemudian dikaitkan dengan ayat yang lain, dan menggunakan pendapat para ahli tafsir terdahulu. Karena Al-Quran tidak bisa dipahami dengan terjemahan belaka, dan karena bahasa itu punya rasa. Tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang dapat diterjemahkan ke bahasa lain, tidak ada. Yang bisa dilakukan adalah diinterpretasi atau ditafsirkan, dan itu pun diyakini tidak 100 persen benar, namun diusahakan untuk selalu mendekati kebenaran. Begitupun dengan Al-Quran.

Hal ini menjadi relevan dengan situasi saat ini yang, makin banyak anak muda dan orang lain yang giat belajar agama, mengkaji Al-Quran, yang sayangnya menurut saya kebablasan. Mereka, yang kini disebut kaum bumi datar dan kaum sumbu pendek tidak segan-segan meneriakkan kafir dan sesat kepada orang lain yang tidak sependapat dengan penafsirannya. Niat mereka baik, mereka menganggap Al-Quran itu agung, benar, baik, maha sempurna, dan ajakan mereka selalu bilang “kembali ke Al-Quran, kembali ke Al-Quran”. Namun, yang mereka maksud kembali itu ternyata MEMBACA TERJEMAHANNYA.

Kalau hanya membaca terjemahannya lantas apa bedanya dengan teroris yang bom sana-sini, membunuh sana-sini karena mereka sangat percaya dengan terjemahan bunuhlah orang kafir dimana pun kamu menemukannya? Sangat mengerikan. Kamu bumi datar adalah orang yang masih saja ngeyel setelah dibeberkan sejumlah fakta dan literatur, sedangkan kamu sumbu pendek adalah orang yang gampang ngamuk dan suka maki-maki orang lain, dikatakan ngamuk malah tambah ngamuk membabi buta.

Saya paham, saya pernah ada di posisi mereka, menganggap islam itu sangat super agung dan baik, islam itu sempurna, menghina islam maka si penghina layak di hukum mati, gantung, bunuh, dan dimutilasi. Itu dulu, ketika saya belum bisa membedakan antara agama dan orang. Hal itu penting untuk bisa membedakan mana ranah agama, mana ranah orang, karena batasnya tipis. Agama itu baik dan sempurna, namun orang jauh dari sempurna. Lalu bagaimana supaya bisa membedakannya? 

Bacalah!!.. perintah pertama di Al-Quran yaitu bacalah. Pesan saya bagi orang yang ingin mempelajari islam, maka bacalah!! Bukan mendengarkan orang, bukan meniru orang lain. Namun, tentu juga pilih-pilih bahan bacaan. Bersyukurlah kita hidup di jaman sekarang, literatur tentang kajian Al-Quran itu banyak dan beragam, kita tinggal pilih yang mana yang nyamannya.

Pesan saya yang penting lagi, jika ingin mempelajari Al-Quran ya jangan baca Al-Quran, apalagi tidak bisa bahasa arab, pun jangan baca terjemahannya. Kita tinggal baca buku TAFSIRNYA, atau buku tentang kajian-kajian Al-Quran, dan Quraish Shihab sangat mumpuni akan hal itu. Jadi, kalau boleh saya membuat intisari combat kit untuk anak muda, untuk orang tua, supaya tidak menjadi radikal, menjadi orang islam yang toleran, maka bacalah buku-buku Quraish Shihab.

Ada 2 buku Qurasih Shihab yang saya rekomendasikan, yaitu Wawasan Al-Quran dan Membumikan Al-Quran, kemudian ada 1 buku penting lainnya, yaitu buku Fiqih Sunnah. Fiqih Sunnah adalah buku berjilid-jilid yang membahas hukum islam dalam kehidupan sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, mulai dari bab taharah atau bersuci, sampai bab zakat, semuanya dihadirkan berbagai macam pendapat ulama, ada yang haram sampai sunah untuk 1 masalah saja, kita tinggal pilih, enak kan? Cukup 3 buku itu saja, baca berulang, niscaya akan memahami esensi agama islam. Dan satu lagi kalau ada rezeki, yaitu Kitab Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab.

Maka, tulisan ini saya dedikasikan untuk menulis kembali poin-poin penting di buku Quraish Shihab Membumikan Al-Quran, jadi supaya saya sendiri tidak lupa dan kalau saya sedang galau dan butuh bacaan untuk menguatkan iman, saya bisa baca kembali poin penting buku tersebut di sini.

1. Al-Quran yang kita baca sekarang adalah mushaf atau kumpulan lembaran kitab. Keotentikannya dijamin oleh sejarah, tak berubah sepanjang 14 abad. Nabi Muhammad mendapat wahyu dari Malaikat Jibril, kemudian diresitasi atau diucap berulang-ulang dihadapan para sahabat, dan sahabat pun menghapalkannya.

Ketika ada keputusan untuk membukukan Al-Quran, tak ada satu pun ayat yang tidak dibukukan kecuali sudah ada lembaran tertulisnya. Jadi bukan sekedar hapalan 1 orang saja lalu ditulis, tidak. Setiap ayat dicarikan bentuk tertulisnya yang tercecer di banyak tempat, dikumpulkan, lalu diperbandingkan dengan hapalan para sahabat, jika cocok, maka baru dibukukan.

Dari sini kita bisa melihat betapa hati-hatinya dalam membukukan Al-Quran, dan sudah menggunakan metode saintifik modern dalam menyusun referensi literatur, dan metode komparasi.

2. Bukti kebenaran Al-Quran ada di dalam Al-Quran itu sendiri, ada sejumlah tantangan kepada orang arab untuk membuat surat, lalu kemudian semisal 1 ayat yang serupa. Ada juga semacam kriptografi di dalam ayat Al-Quran, ada hitung-hitungannya. Kemudian Al-Quran diturunkan kepada Nabi yang tidak bisa membaca, kepada lingkungan masyarakat yang juga memang tidak pandai membaca dan berhitung. Selain itu juga ada cerita-cerita terdahulu seperti Firaun dan lain-lain.

3. Pembagian ayat atau turunnya Al-Quran dapat menjadi 3 bagian, yaitu periode awal di mekkah, secara garis besar tentang perintah mengabarkan kepada masyarakat arab jahiliah, tentang larangan ini dan itu yang berhubungan dengan kebiasaan masyarakat arab jahiliah.

Periode menengah adalah ketika muslim menjadi oposisi dari masyarakat arab jahiliah, isinya secara garis besar berkisar tentang cara melakukan perlawanan. Periode akhir di madinah adalah soal hukum kemasyarakatan, karena sudah terbentuk kehidupan sosial, dan setelah itu selesai maka wahyu dicukupkan.

4. Al-Quran diturunkan atau berdakwah sesuai dengan kondisi masyarakatnya, selain itu juga bercerita tentang sejarah arab pada masanya. Intinya penurunan wahyu adalah bertahap, dan sampai selesai.

5. Tak dapat dipungkiri bahwa di Al-Quran banyak ayat tentang sains, namun harus selalu diingat bahwa Al-Quran bukanlah kitab sains dan tidak boleh dipakai untuk membenarkan atau menyalahkan suatu teori sains, karena sains itu sendiri tidak kekal dan selalu berubah.

Hubungan Al-Quran dengan sains bukanlah dari banyaknya teori sains yang bisa cocok dengan Al-Quran, tapi dari maksud ayat-ayat Al-Quran yang menciptakan iklim dan kondisi masyarakat yang memajukan sains. Tanpa iklim itu maka akan terulang kejadian galileo dan ilmuwan eropa yang lainnya yang terpasung kemampuan sainsnya, karena pemaksaan dogma agama, tentu dunia islam tidak ingin hal itu terulang. Harus disadari bahwa setiap teori sains seperti planet, cahaya, evolusi yang bertahap-tahap bisa dibenarkan atau disalahkan oleh Al-Quran, namun jangan sampai dibilang bersumber dari Al-Quran, semua itu adalah pendapat sains pribadi berdasarkan hasil pengamatan atau observasi pada masanya.

Jika ada narasi yang menyatakan suatu hal yang sains sudah ada di Al-Quran sejak dulu, maka itu adalah pendapat inferiority complex, sikap rendah diri, sikap orang yang kalah dan takut kejadian pada ilmuwan eropa kembali terulang, karena takut mempertentangkan sains dan kitab suci.

Penafsiran atau penerjemahan ayat sains dalam Al-Quran, misal tahapan embriologi, adalah merupakan ijtihad pribadi, dan tidak boleh dianggap sebagai AKIDAH dimana jika orang tidak percaya maka akan dianggap kafir, hal itu tidak boleh. Karena jika dianggap sebagai AKIDAH, maka akan terulang kembali kejadian para ilmuwan eropa jaman dahulu yang dianggap sesat oleh gereja. Sains itu soal materi, dapat diukur, namun agama menawarkan filsafat, soal jati diri manusia dan segala hal yang tak terlihat.

6. Al-Quran mewajibkan kita semua untuk berpikir, mengamati dan memikirkan alam raya, untuk kemudian menciptakan alat-alat yang bermanfaat. Kata ilmu selalu bersanding dengan kata yang menunjukkan kekuasaan Allah dan manfaatnya bagi manusia. Tidak ada gunanya berilmu jika tidak membuat yang punya ilmu yakin akan kekuasaan Allah dan tak bermanfaat bagi manusia. Makanya tertulis “pada penciptaan langit dan bumi, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah”.

7. Nabi, sahabat, dan tabiin juga melakukan penafsiran terhadap Al-Quran, namun tidak semua ayat dapat ditafsir oleh Nabi, karena memang tidak ada sumber, tidak ada yang bertanya, atau mungkin tidak ada sebab khusus peristiwanya.

Selepas Nabi dilakukanlah Ijtihad untuk menafsir Al-Quran, karena kondisi sosial masyarakat, ragam dan rasa bahasa yang juga berubah, serta perkembangan sains juga ikut mempengaruhi corak dan ragam tafsir. Penafsiran terhadap Al-Quran juga terbatas pada hal-hal yang masih dapat dijangkau oleh manusia, tidak pada hal-hal gaib yang memang di luar jangkauan manusia.

8. Khazanah tafsir memiliki berbagai macam metode dan ragam, serta tak lepas dari asbabun nuzul, sebab turunnya ayat, perisitiwa yang menyertainya, waktu dan pelaku, analogi, qiyas, takwil, metafora, generalisasi, spesialisasi, dan semuanya itu dikaitkan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat.

9. Tafsir selalu berubah mengikuti perubahan kondisi sosial masyarakat, perubahan itu tercatat dalam Al-Quran sebagai ketetapan Allah. Namun, ada wilayah tafsir yang tidak bebas dan sudah mutlak, misal soal keimanan, ibadah, kedudukan Nabi Muhammad, sementara wilayah tafsir yang bebas dilakukan sesuai perkembangan jaman adalah soal permasalahan sosial, sains, dll.

10. Tafsir membutuhkan keahlian personal seperti bahasa, sejarah, sains, dll untuk mendapatkan pemahaman akan konteks suatu kata, sehingga tidak boleh dimonopoli oleh sekelompok orang, namun haruslah sebagai usaha bersama berbagai macam ahli.

11. Jenis tafsir selain tematik/maudui, adalah analisis, komparasi, masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelebihan metode tafsir maudui adalah menghimpun ayat-ayat sesuai tema atau masalah yang telah ditetapkan terlebih dahulu dengan memperhatikan urutan turunnya ayat, konteks, asbabun nuzul, dll.

12. Lain tafsir, lain pula hadits, bahkan ulama sekelas Abu Hanifah, Maliki, Syafii berbeda pendapat tentang kedudukan Hadits, apakah Hadits dapat memperjelas Al-Quran dan membuat hukum baru? Bagaimana jika Hadits bertentangan dengan Al-Quran? Apakah Hadits harus dipahami secara harfiah atau konteks? Apakah dibutuhkan lagi tafsir Hadits selain tafsir Al-Quran? Ternyata semua berbeda pendapat, ternyata islam itu BERAGAM!.

13. Hadits memang banyak diragukan kebenarannya karena penulisan resminya ratusan tahun Hijirah pada khalifah Umar Ibn Abdul Aziz. Hadits lebih rumit dari Al-Quran karena direkam dengan hafalan saja, dan para penghafal ada yang tidak memiliki pengetahuan agama yang tinggi. Jumlah Hadits hanya sekitar 50.000 saja, sedangkan yang ratusan ribu adalah jumlah matannya atau jalur. Seringkali satu Hadits memiliki beberapa matan.

14. Hadits sering dipalsukan untuk tujuan politik tertentu, mencapai kekuasaan, menerapkan sistem kekhalifahan. Semua adalah karena pendangkalan agama dan kurangnya ilmu pengetahuan.

15. Al-Quran tidaklah kaku dan ulama sepakat bahwa setiap kata dalam Al-Quran memiliki banyak makna. Dan menafsir Al-Quran dibutuhkan kerja sama dengan banyak pihak dan ahli ilmu lain, agar makna yang didapat tepat. Tidaklah dinamai mufasir jika tidak bisa memberikan makna yang BERAGAM.

16. Penentuan hukum dalam Al-Quran haruslah didukung dengan nash-nash lain yang mendukungnya, atau contoh dari Nabi dan sahabat.

17. Kita wajib percaya tidak ada pertentangan dalam Al-Quran, namun ulama berbeda pendapat dalam menyikapi jika sekilas ada pertentangan dalam Al-Quran, maka mereka melakukan KOMPROMI dinamakan Nashk dan Mansukh. Ulama pun berbeda pendapat apakah ada ayat yang dibatalkan, atau memang ayatnya mengalami pergantian atau pengalihan sesuai dengan kondisi sosial masyarakat, hal itu semua adalah Ijtihad ulama.

18. Khalifah artinya adalah pengganti, belakangan, yang diberi kekuasaan, ilmu, yang diteguhkan. Posisi khalifah bukanlah antara penakluk dengan yang ditakluk, namun kesetaraan dalam ketundukkan, semua setara, namun yang kuat memiliki hak yang lebih dari yang lemah, tapi harus saling mempergunakan dan saling bermanfaat.

19. Tujuan kekhalifahan atau pemerintahan bukan dilihat dari banyaknya barang yang dihasilkan atau kecepatan layanan pemerintahan, tujuannya adalah: membebaskan manusia dari rasa takut dan menciptakan segala rasa aman, yaitu bebas dari ancaman keamanan, terjaminnya sandang, pangan, dan papan, bebas mencapai cita-cita, mengembangkan potensi dan bakat, serta bebas berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik.

20. Al-Quran tidak mengatur pemilihan bentuk kekhalifahan atau pemerintahan, Al-Quran hanya menceritakan sifat dan fungsi pemerintahan.

21. Pengajaran tafsir masa kini terjebak pada penguasaan karya tafsir sebelumnya, seharusnya ditekankan pada penguasaan metode dan kunci-kunci pemahaman tafsir.

22. Dakwah harusnya sejalan dengan nafas Al-Quran tentang usaha memanusiakan manusia yang terdiri dari jasmani, akal, dan jiwa. Kesuksesan dakwah tidak dilihat dari banyaknya tepuk tangan, tangis, dan tawa, tapi seberapa besar dakwah tersebut bisa membekas dan berkesan di jiwa. Akhirilah dakwah selalu dengan kesimpulan.

23. Dakwah haruslah memberikan sesuatu yang baru dan sesuai dengan kondisi terkini kehidupan sosial masyarakat, bukan menjadikan persoalan yang belum menjadi masalah.

24. Masalah dakwah masa kini adalah Dai berdakwah sesuai dengan pesanan masyarakat, ingin tepuk tangan, tawa, dan tangis, sehingga membuat Dai selevel dengan masyarakat. Seharusnya Dai tampil lebih tinggi dan yang mengarahkan masyarakat.

25. Agama adalah hubungan antara manusia dengan Khalik atau penciptanya. Alasannya adalah karena manusia selalu terpana dengan 3 hal, yaitu Kebaikan, Keindahan, dan Kebenaran. Dan fitrahnya manusia adalah selalu ingin mencari dan mendapatkan yang paling baik, paling indah, dan paling benar. AGAMA ADALAH USAHA MANUSIA UNTUK MENCONTOH SIFAT-SIFAT TUHANNYA.

26. Proses modernisasi islam adalah proses menguniversalkan nilai-nilai islam yang tadinya partikular dan terbatas akibat waktu dan tempat, menjadi nilai-nilai yang global dan sesuai dengan perkembangan jaman. Contohnya adalah perintah memanah, berenang, dan berkuda, haruslah diuniversalkan dengan konteks bersiap-siap menghadapi musuh, bencana, atau bersiap-siap dalam menjaga kesehatan. Musuh bisa diartikan musuh negara, agama, bahkan misal penyakit yang harus dipersiapkan dengan ilmu kedokteran yang canggih. Inilah yang namanya MENGUNIVERSALKAN NILAI ISLAM.

 27. Apakah agama itu absolut atau relatif? Pasti atau tidak pasti? Banyak yang menyangka bahwa agama itu absolut sehingga sering suatu kelompok memaksakan pendapatnya kepada orang dan agama lain, sehingga menimbulkan perpecahan dan konflik. Islam mengajarkan ada yang absolut, ada yang relatif, bahkan sedikit sekali yang absolut. Absolut adalah karena tidak ada interpretasi lain, sementara kebanyakan dalil Agama adalah relatif dengan interpretasi bermacam-macam.

28. Sikap absolutisme dalam bergama haruslah hanya untuk jiwa sendiri dan kalangan internal islam, sementara untuk ke luar, agama lain, orang lain, dan komunitas lain harus seperti yang Al-Quran katakan, CARI TITIK TEMU, BOLEH JADI ANDA BENAR, DAN KAMI YANG SALAH, NAMUN BOLEH JADI KAMI BENAR, DAN ANDA YANG SALAH, BIARKAN TUHAN YANG MEMUTUSKAN.

29. Kesalahan terbesar manusia masa kini adalah berlagak seperti Tuhan, bahkan melebihi Tuhan dengan menginginkan hanya terdapat 1 pendapat dan 1 aliran. Padahal Tuhan menghendaki perbedaan dengan menetapkan Al-Quran dengan berbagai macam makna, dan memberikan manusia kebebasan dalam memilih sehingga memang ada beberapa pilihan.

30. Teori kehidupan bagi agama berbeda dengan teori pada ilmu biologi misalnya sebagai hewan yang cerdas, atau paham komunis dimana manusia adalah makhluk ekonomis. Al-Quran menyatakan manusia adalah makhluk dengan 3 hal, yaitu jasmani, akal, dan jiwa. Maka pembahasan tentang manusia haruslah menyeluruh menyertakan jasmani, akal, dan, jiwa.

31. Manusia sebagai khalifah haruslah bersahabat dengan alam, karena posisinya setara sebagai ciptaan Allah. Manusia harus menikmati alam raya dengan melakukan eksplorasi dan dilarang aniaya atau boros. Bahkan manusia dianggap kufur jika alam raya tidak dieksplorasi. Menikmati alam raya adalah bentuk rasa syukur kepada Allah.

32. Nabi Adam bukan lah diturunkan ke bumi sebagai hukuman, karena Nabi Adam memang sudah ditugaskan menjadi khalifah, namun berkesempatan transit di surga untuk berlatih. Hal itu agar Nabi Adam dan keturunanya dapat menciptakan bayang-bayang surga di bumi, dimana tak ada kesusahan dan kepayahan, harmonis, dan menciptakan kondisi ideal, itulah tujuan manusia di bumi dan fungsi pemerintahan, untuk MENCIPTAKAN BAYANG-BAYANG SURGA DI BUMI.

33. Kesalahan pendakwah masa kini adalah terjebak pada ritual lisan dan ibadah, padahal umat tertinggal secara ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Harusnya berdakwah dengan perbuatan, menciptakan lembaga pendanaan ekonomi, pendidikan, penciptaan lapangan kerja, dll, yang semuanya menjadi IKHTIAR DALAM MENCIPTAKAN BAYANG-BAYANG SURGA DI BUMI.

34. Tentang riba, kita harus bisa membedakan syariat dalam Al-Quran. SYARIAT adalah sesuatu yang bersifat pasti dan langgeng, sedangkah FIKIH adalah penafsiran yang bersifat relatif dan berubah sesuai perkembangan jaman. Riba itu Haram dan jelas Syariatnya, lalu apa saja yang termasuk Riba? Apakah bunga bank konvensional itu riba? Apakah kredit pembiayaan itu riba? Dan lain sebagainya, maka itu termasuk wilayah FIKIH.

35. Riba yang haram sesuai dengan kondisi arab jahiliah adalah segala bentuk penambahan atau pelipatgandaan akibat penundaan, dan mengandung penganiayaan atau penindasan, maka ini berkaitan dengan kegiatan utang/piutang. Bukanlah riba jika terdapat unsur bagi hasil dan tak ada denda akibat penundaan. Nabi pun beberapa kali berutang dan ketika membayar kerap kali Nabi melebihkannya.

 36. Nabi pun berdoa memohon ampun atas dosa kepada Allah, dan agar Allah mengambil alih dan menanggung dosa yang dilakukan kepada makhluk lain. Sebelum meminta maaf, haruslah disertai dengan penyesalan dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Lebih tinggi dari memaafkan kesalahan bukan lah dengan menghapus noda, tapi melapangkan hati, menutup lembaran lama, dan membuka lembaran baru.

 37. Ada hadits yang menyatakan bahwa Allah SWT menciptakan manusia sesuai dengan peta-Nya. Artinya Allah SWT memberikan potensi agar manusia dapat berusaha menyerupai sifat-sifat Allah yang 99, bahwa semakin dekat kepada sifat Allah SWT yang 99, maka akan semakin Takwa.

Sehingga Takwa bukanlah ibadah semalam suntuk tanpa henti, namun harus ada upaya untuk menyerupai 99 sifat Allah, seperti maha pemberi rizki, menyehatkan (dokter?), menciptakan (insinyur?), bijaksana, adil (hakim, jaksa, penegak hukum?), maha cerdas, kaya, pengasih, penyayang, dan maha-maha lainnya. Itulah arti frase “God created us, in His own image”, Maka berakhlak dan bersifatlah seperti 99 sifat Allah SWT.

 38. Manusia sebagai khalifah berkewajiban untuk membangun, Allah SWT mengecam orang yang punya tanah namun dibiarkan tak digarap. Hal ini berarti Allah SWT sangat mendorong agar segala potensi dan sumber daya yang kita miliki (waktu, tenaga, uang, dll) untuk dapat digunakan sebaik-baiknya, dan kemudian bersyukur kepada-Nya.

39. Islam adalah sedikit dari bahkan hampir tidak ada, agama yang mengakui kepemilikan harta benda bagi laki-laki dan juga perempuan, namun islam juga menekankan untuk tidak melupakan hak Allah SWT dari harta benda tersebut yang secara keyakinan disisipkan pada orang lain terutama kaum dhuafa.

40. Al-Quran selalu menekankan agar mencari titik temu dan kata sepakat dengan orang-orang Nasrani. Kata sepakat itu adalah tentang keesaan Allah, namun kita tidak boleh memaksa, cukup sampai dengan pengakuan adanya agama Islam. Untuk itu lah tujuan adanya Pancasila, sebagai titik temu dan saling pengakuan satu sama lain atas eksistensi keberagaman.

41. Di dalam Al-Quran ada hal-hal yang sudah diatur oleh Tuhan dan tak bisa dibantah lagi, namun hal tersebut sangat sedikit sekali. Paling banyak bagian Al-Quran adalah bahwa Allah SWT meenetapkan prinsip dan pedoman secara umum, dan membebaskan manusia untuk mengembangkan, membangun, dan menetapkan sendiri, namun harus tetap berada pada nilai dan pedoman Al-Quran.

42. Malam Lailatul Qadr memiliki 3 arti Qadr, yaitu: penetapan urusan/ukuran, mulia, dan sempit/sibuk (untuk para malaikat). Tidak semua orang mendapatkan malam Lailatul Qadr, hanya orang yang berjiwa suci dan memang mempersiapkannya. Nabi mengajarkan itikaf untuk merenung, dan menghindari hiruk pikuk. Sungguh suatu hal yang sulit dan kebalikan dari masa kini.

43. Tauhid adalah perkembangan kesadaran manusia yang revolusioner bahwa hanya ada satu penguasa alam semesta. Dari yang sebelumnya berkeyakinan banyak Tuhan atau Dewa yang saling perang dan intrik, dan menjadikan manusia sebagai obyek untuk menyembah sehingga membuat para Tuhan dan Dewa tersebut “kuat”. Kini Tauhid membuat manusia sebagai subyek dan berhak menguasai dan mengelola bumi dan isinya.

44. Peristiwa Isra Mi’raj belum dapat dibuktikan secara ilmiah, hanya bisa disikapi dengan iman. Sebaiknya kita tidak memikirkan bagaimana, tapi mengapa ada peristiwa tersebut dan apa hikmahnya, yaitu perintah solat, yang juga hanya bisa disikapi dengan iman.

45. Perbedaan dan keragaman pendapat sudah terjadi sejak abad ke-2 Hijriah. Hal tersebut dikarenakan masyarakatnya gemar mendebatkan kedudukan Tuhan dan posisi kesucian Nabi, dll. Penyebab lain adanya perbedaan adalah karena memang Allah SWT yang berkehendak membuat Al-Quran dengan banyak redaksi yang multi tafsir. Jika Allah SWT tidak menghendaki perbedaan, tentu akan membuat Al-Quran dengan redaksi yang hanya memiliki satu arti.

46. Nabi sering menoleransi perbedaan dengan membenarkan pemahaman sahabat yang saling berbeda.

47. Tak ada yang bisa memahami maksud suatu kata atau kalimat yang diucapkan, selain si pembicara, termasuk Al-Quran.

48. Al-Quran hampir tak ada, atau jarang memiliki redaksi yang Qathi/pasti, selain dari itu adalah Zhanny/dugaan. Ketetapan bahwa suatu hal adalah Qathi harus melewati proses yang bertingkat-tingkat walau didukung berbagai macam argumentasi yang Zhanny.

49. Faktor lain sebab adanya perbedaan adalah karena terdapat berbagai macam metode penerimaan Hadits. Seberapa pun Muttawatir-nya, jika ada satu orang saja yang alim yang tidak setuju, dan berpendapat ada satu yang cacat, maka harus dipandang sebagai perbedaan, dan haruslah ditoleransi. 

50. Al-Quran terbagi menjadi 2, yaitu pengetahuan dan pengamalan. Sesuatu yang wajib diyakini berdasarkan hal yang Qathi/pasti dianggap sebagai Akidah atau Ushuludin, dan pengamalannya dianggap sebagai Syariah.

51. Ajaran Islam didirikan atas argumentasi yang bertingkat-tingkat, paling tinggi adalah Akidah atau Ushuludin dimana penolakan terhadap hal tersebut dianggap kufur. Kemudian dibawahnya adalah ketetapan ulama atau Ijma, penolakannya bisa menjadi kufur atau fasik, namun tetap tidak setara dengan Akidah. Banyaknya argumentasi yang Zhanny/dugaan, mengakibatkan perbedaan pendapat. 

52. Kebebasan beragama dalam Islam terbatas pada masalah Furu atau cabang yang bersifat Zhanny/dugaan.

53. Setiap muslim terdapat kewajiban pemeliharaan terhadap pemurnian agama, maka dapat dibenarkan langkah-langkah untuk membendung paham-paham yang tidak sejalan dengan masyarakat islam, tanpa mengeluarkan dari komunitas islam, sepanjang masih dalam lingkup Ushuludin.

54. Terdapat Pro dan Kontra tentang ucapan selamat natal
Kontra:
- Takut jika kesucian Akidah ternodai, dan dianggap kafir secara otomatis, karena ada ayat Al-Quran yang mengatakan kafirlah orang yang bilang bahwa Allah SWT memiliki anak atau Ibu, atau Tuhan dilahirkan, dsb semacam itu.

Pro:
- Ucapan selamat Natal justru diabadikan pertama kali di dalam Al-Quran, diucapkan sendiri oleh bayi nabi Isa yang mengatakan “salam sejahtera semoga dilimpahkan kepadaku pada hari lahirku, wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan kembali”.

- Dalam sholat kita mengucapkan shalawat yang tertuju kepada semua Nabi, bahkan Nabi Muhammad berpuasa hari Asyuro untuk merayakan keselamatan Nabi Musa.

- Al-Quran menyuruh kita semua untuk mencari titik temu, maka temukanlah titik temu, bukan memperlihatkan perbedaan. Nabi Isa mengaku anak manusia, Nabi Muhammad membawa rahmat, dan keduanya sama-sama membebaskan manusia-manusia yang kecil, lemah, dan tertindas, maka itulah titik temunya.

55. Fakta adanya fatwa larangan mengucapkan selamat natal, haruslah dipahami bahwa fatwa tersebut ditujukan kepada orang yang khawatir pada Akidahnya sendiri, namun tidak beralasan jika Fatwa ditujukan kepada orang yang tetap murni Akidahnya dan tidak menimbulkan kerancuan dalam batinnya.

56. Jika lawan bicara memahami ucapan selamat natal sesuai dengan keyakinannya, maka biarlah demikian, seperti halnya ucapan bayi Nabi Isa, atau isi Al-Quran yang dipahami lain oleh orang-orang Nasrani, maka biarlah demikian.

57. Dibutuhkan kearifan dalam rangka berinteraksi secara sosial, dan Agama menuntut adanya kerukunan umat beragama, dan berdosa jika kerukunan dikorbankan atas nama Agama. Kerukunan lebih penting daripada perselisihan, walaupun apa yang diperselisihkan benar atas nama Agama.

58. Kita harus tetap yakin akan kedatangan kembali Nabi Isa, yang bukan hanya meluruskan paham orang Nasrani, tapi juga ucapan kaum Muslim, dan nanti kita semua akan menerimanya. Maka, Salam sejahtera semoga tercurah kepada Nabi Isa, pada hari Natalnya (lahirnya), wafatnya, dan hari kebangkitannya nanti.

59. Ulama disebut di dalam Al-Quran sebanyak dua kali, yang artinya adalah orang yang berilmu, baik ilmu alam dan ilmu Qurani, bahkan ulama seringnya dikaitkan dengan ayat untuk memperhatikan alam, hujan, dsb.

60. Ilmu apapun yang dikuasai oleh Ulama, baik ilmu agama ataupun ilmu alam, hendaknya yang membuat tunduk/takut kepada Allah SWT.

61. Namun, perkembangan IPTEK abad pertengahan telah menciptakan penyempitan makna/pembatasan, misal kata Ibadah menjadi sebatas ritual sholat, puasa, dll, dan Fikih menjadi hanya soal hukum, padahal makna awal kata tersebut sangat luas. Ulama pun menjadi menyempit maknanya menjadi hanya orang ahli ilmu agama, hal tersebut karena pada masa itu IPTEK berkembang di negara-negara sekuler, sehingga banyak ilmu alam yang dianggap berasal dari sana.

62. Al-Quran tidak membedakan antara ilmu alam dan ilmu agama, dan ilmu agama tidak lebih baik dari ilmu fisika atau sejarah, sepanjang semua ilmu itu membuat tunduk/takut kepada Allah SWT. Permasalahan masa kini, ulama hanya berkutat pada ilmu agama, padahal harusnya juga menguasai ilmu alam.

63. Adanya pembedaan antara Ulama dan Umara (pemerintah) adalah karena pendapat Al-Ghazali yang dipengaruhi keadaaan pada masanya, yaitu beliau mencela Ulama yang bertemu dengan penguasa karena disangka mengejar dunia. Hal tersebut jangan kita terima begitu saja tanpa tahu kondisi masyarakat pada jamannya.

64. Keharmonisan Ulama dan Umara lebih penting diprioritaskan demi kemashlahatan umat.


(trus, Dhis...?!!)

27.7.17

Cerita Seorang Pemimpin

Ketika anda mendengar kabar buruk tentang anak buah anda dari orang lain, bahwa anak buah anda tidak berkinerja memuaskan, atau sesederhana tidak melayani orang lain itu, anda percaya. Kabar itu anda simpan dengan tujuan tertentu.

Lalu ketika organisasi anda digoyang atau dipersulit oleh orang lain yang pernah memberikan kabar buruk tentang anak buah anda, serta merta anda langsung mengatakan bahwa ini adalah karena anak buah anda yang kata orang lain berkinerja buruk. Karena orang lain itu tidak menyukai anak buah anda, maka orang itu juga tidak menyukai organisasi yang anda pimpin. Di sini masalahnya, anda telah menyalahkan orang lain untuk menutupi ketidakmampuan dan kelemahan anda bekerja sebagai pemimpin, bahkan anda tidak berusaha menyelesaikannya.

Mudah memang menyalahkan orang lain, dan setiap orang butuh menyelamatkan diri masing-masing, dan itu tepat sekali yang anda lakukan. Mengkambing-hitamkan orang lain, seakan-akan nilai seorang anak buah rendahan sama dengan nilai organisasi. Di sini masalahnya, anda lebih percaya orang lain, ketimbang anak buah sendiri, bahkan ketika anak buah tidak serta merta meminta kepercayaan anda yang tentu teramat mulia, namun hanya praktis meminta sikap mempertanyakan kebenarannya pun tidak anda berikan.

Saya paham, anda butuh menyelamatkan diri, anda butuh alasan untuk menutupi ketidakmampuan anda dalam bernegosiasi, dan kelemahan anda dalam bertutur substansi, saya paham, saya mengerti, bahkan saya tidak menemukan alasan untuk saya tidak mengerti. Dan jika suatu saat nanti organisasi anda dipersulit lagi, anda tinggal memainkan kartu truf menyalahkan orang lain, demi menyelamatkan muka anda.
(trus, Dhis...?!!)